Feb 19, 2011

Rasa Itu

By Ricardo Marbun

Tadi aku ketemu cowok itu lagi, Ri..” Suri berkata begitu ceria.

Tadi di dalam kelas sangat tersiksa karena harus bisik – bisik curhat sama Wuri teman dekatnya. Menunggu bell pulang berbunyi minta ampun lamanya, mana jam terakhir bikin bete banget, siapa juga yang peduli ama segala macam... cerita – cerita jaman dulu, lagian kenapa juga pelajaran sejarah di tempatkan pas jam terakhir, siang bolong begini mulut tak terhitung menguap sampai rahang pegel rasanya buka tutup melulu.

Kamu samperin nggak?” Wuri berjalan agak lambat di tengah gerombolan teman – temannya.

Itulah kelebihanku, Ri. Aku tak berani menyapanya, malu tau?

Doi lagi ngapain waktu kamu lihat?

Suri senyum – senyum sendiri. Tadi pagi sewaktu berangkat sekolah dia melihat cowok itu, Suri sampai lupa mau melangkah, serasa ada lem merekat erat di bawah sol sepatunya, matanya lurus memandang cowok yang diam – diam telah mencuri perhatiannya. Cowok itu sama sekali tak melihat ke arahnya. Jantung Suri berdenyut lebih kuat merambat hingga ke pipinya yang mulus. Suri hanya mampu memperhatikan kegiatan cowok itu. Dia sedang membersihkan motor, mau persiapan kuliah sepertinya. Ingin lebih lama Suri berdiri memandang dari jauh cowok itu, tapi suara langkah kaki dari dalam rumah membuyarkan keinginan itu, segera dia berjalan tanpa menoleh siapa yang keluar dari dalam rumah. Suri berjalan sambil menundukkan kepalanya dia tak punya nyali melihat lebih dekat cowok itu.

Dari depan gerbang sekolah Suri dan Wuri langsung di samperin kernet – kernet bemo, jam pulang sekolah begini halaman luar sekolah seketika berubah seperti pasar, tak jarang kernet – kernet itu hanya alasan menawarkan bemo padahal mereka punya niat lain, mau pegang – pegang nggak jelas. Untung anak – anak SMP ini pintar menghindar dari sang kernet jail.

Terus kamu nggak lihat dia dari dekat? Gimana sih, Suri?” Wuri bertanya lagi setelah mereka duduk manis dalam bemo tujuan rumah mereka.

Suri mengelengkan kepalanya. Ikal – ikal rambutnya ikut terayun sewaktu kepalanya menggeleng. Wajah mudanya mulai memancarkan kecantikan gadis belia. Hidungnya yang bangir menyempurnakan wajahnya dengan kata cantik.

Emang dia cakep ya? Maksud aku mirip siapa gitu?

Cakep Ri, wajahnya itu lo lucu banget, ngegemesin. Ada mirip seperti Raffi Ahmad, Ri..

Tapi kita kan masih SMP, Suri? Jauh banget ama anak kuliahan? Gimana coba?

Suri mengamini pernyataan Wuri barusan, dia baru SMP kelas 1, sedang mahluk itu anak kulihan, tapi rasa itu pelan – pelan telah mengetuk serambi hatinya, dia sendiri tidak tahu kenapa rasa itu ada dan kapan datangnya. Yang Suri tahu rasa itu nikmat terasa memenuhi rongga dadanya.

-----------------------------

Ricardo Marbun. Sering menulis cerpen remaja. Karya-karyanya tersebar di beberapa media. Terakhir tampil di majalah D'Sari Edisi 16 Januari - 15 Februari 2011 dan karya-karyanya juga akan banyak ditemui pada majalah teenlit Story edisi mendatang ini.

Catatan: Mohon maaf kepada penulis, Ricardo Marbun atas koreksinya.

5 comments:

  1. remaja selalu ceria... hummm...

    /bam's

    ReplyDelete
  2. lucu tapi bagus deh.... :)

    /kriesJ

    ReplyDelete
  3. pengen kenalan sma penuLisnya... 'lam knal yaa...

    /nez

    ReplyDelete
  4. mana dong lanjutannya kaka'.... g asyik ah... :( *tari-bandung

    ReplyDelete