Nov 23, 2010

Rindumu

By Djuwarsih Mukhlisin

Tak biasa saja
Suaramu masuk lewat lubang langitlangit rumah tempat tikus biasa berlalu lalang
Katamu :
Aku rindu…
Sudah kukirim kabarnya dari sebulan lalu, melalui surat terbuka yang ku lempar tepat di beranda
Tapi tak ada balasan..


Hmm, sadarkah
Angin mati waktu itu
Suratmu tak sampai di kamarku
Mungkin saja dia terserak dan tersapu oleh emakku
Yang rajin membersihkan halaman tiap pagi

Rindumu tinggal sebaris
Yang teriris-iris tersisa selapis
Terkucur di atas teritis
Tapi melubangi hatiku dengan sadis

Rindumu tak pantas diumbar
Juga jangan tersebar menjadi aib dan kabar
Simpan saja dalam dadamu yang berdebar
Jangan sampai ada yang mendatangimu dan dengan gagah pipimu ditampar
Atau kau datangi aku
Tanpa harus kau rebut selimut hangatku diamdiam
Sanggupkah ??

Tangerang, 30 Juli 2010
------------------------------------------------

Djuwarsih Mukhlisin. Sering menulis sajak di situs-situs jejaring pertemanan. Sajak-sajaknya selalu bernada lembut.

1 comment:

  1. rindu selalu menguras emosiku....
    tapi aku menikmatinya....
    keren deh sajaknya mbak....

    -sanny

    ReplyDelete