By Djuwarsih Mukhlisin
Satu persatu
lepaskan pakaian
Pakaian yang telah dipakai seharian, menutup aurat, kadang juga kemunafikan
Biarkan detergen mengurai debu-debu dan menghilangkan bau keringatnya menjadi wangi
Dengan doa, berniat ibadah
Basahi air di kepala, menyiram habis seluruh tubuh
Menyingkirkan peluh yang telah terseduh
Melepaskan penat, biarkan luruh dan terbuang ke selokan
Memberi segar penuh gairah, setelah badan terpenjara dengan gerah
Usapkan wewangian di kepala, sampai berbusa
Buang segala buruk sangka yang penuh menyumbat kepala
Usir ketombe yang membuat gatal menyiksa
Pastikan juga kutu kabur semua
Terutama kutu yang membuat hilang kreasi di isi kepala
Gosokkan sabun lembut sampai ke pojok lekukan kulit
Tak peduli bila punya banyak selulit
Biarkan dakimu rontok tanpa sisa, terbasuh dgn busa
Jangan disayang !
karena dakimu membuat kulit makin legam
apalagi bila kau rajin menabung dendam
Jangan lupa sikat gigi, 2 kali sehari
Pastikan gigimu bersih
Bersih dari segala caci maki
Pastikan nafasmu segar
Agar suaramu terdengar lembut dan senyummu berbinar
Tuntaskan mandi sampai bersih diri
Ambillah handuk, keringkan tubuh dengan sungguh benar
Badan bugar, fikiran pun segar
Tak ada lagi buruk sangka
karena bersih sampai ke dalam rongga dada
Membuka kembali isi kepala
Untuk dapat mencipta lebih banyak karya..
19 Juli 2010
--------------------------------------------------
Djuwarsih Mukhlisin. Ibu rumah tangga, sering menulis sajak. Tinggal di Tangerang.
The collection of Note's from me and all of my friends... and Whoever.... That's it.....
Jul 19, 2010
Jul 14, 2010
Jarak Sajak
By Weni Suryandari
Bukankah sampai juga getar
Dari jarak dua kota ini
Seperti gempa di satu titik
Gaungnya di penjuru negeri
Angin mengirim desau
Ke kotamu, dan pesan lampau
Tentang melipat jarak,
agar malam bukan sajak
tapi di laut jugalah, kusimpan semua risalah
agar di pintumu waktu henti berdetak
sebab detak itu hanya di nadiku
:mengalir kau
Juni, 2010
-------------------------------------------
Weni Suryandari. Penyair perempuan, tinggal di Jakarta. Karyanya yang lain dapat ditemui di situs jejaring sosial facebook dan blog-nya di alamat http://wenispurnama.wordpress.com.
Bukankah sampai juga getar
Dari jarak dua kota ini
Seperti gempa di satu titik
Gaungnya di penjuru negeri
Angin mengirim desau
Ke kotamu, dan pesan lampau
Tentang melipat jarak,
agar malam bukan sajak
tapi di laut jugalah, kusimpan semua risalah
agar di pintumu waktu henti berdetak
sebab detak itu hanya di nadiku
:mengalir kau
Juni, 2010
-------------------------------------------
Weni Suryandari. Penyair perempuan, tinggal di Jakarta. Karyanya yang lain dapat ditemui di situs jejaring sosial facebook dan blog-nya di alamat http://wenispurnama.wordpress.com.
Jul 9, 2010
Janji Cinta pada Rindu
By Ratna Arisanti
janji cinta pada rindu
tak jua sampai,cemburu
terlanjur keliru
berseru-seru
begitupun aku...
janji bintang pada langit terang
tak jua datang,bayang
jatuhkan aku pada lukis lekuk siang
layangkan harap sejuta, berbilang
begitulah aku...
serupa rasa yang lalu,berlalu
diam berdiam di rindu yang asa
janji cinta seperti
janji angin pada kemarau
ingin selalu menatap wajah riang
di bola mata yang penuh cinta
ah...
aku ingin seperti bintang
: merindui langit
6 Juli 2010
----------------------------------------------
Ratna Arisanti. Sering membuat sajak. Karyanya yang lain dapat ditemui di situs pertemanan facebook.
Note: Sajak ini diambil dari oase.kompas.com tanggal 6 Juli 2010.
janji cinta pada rindu
tak jua sampai,cemburu
terlanjur keliru
berseru-seru
begitupun aku...
janji bintang pada langit terang
tak jua datang,bayang
jatuhkan aku pada lukis lekuk siang
layangkan harap sejuta, berbilang
begitulah aku...
serupa rasa yang lalu,berlalu
diam berdiam di rindu yang asa
janji cinta seperti
janji angin pada kemarau
ingin selalu menatap wajah riang
di bola mata yang penuh cinta
ah...
aku ingin seperti bintang
: merindui langit
6 Juli 2010
----------------------------------------------
Ratna Arisanti. Sering membuat sajak. Karyanya yang lain dapat ditemui di situs pertemanan facebook.
Note: Sajak ini diambil dari oase.kompas.com tanggal 6 Juli 2010.
Jul 2, 2010
aku disudut itu
By Febby Sahla
sudah tak ada yang bisa kuseka... cukup setitik saja
seperti dulu tak ada beda
hanya sebaris kalimat yang sama
yang tetap kupunya
:
"selayaknya ia bahagia seperti saat menikmati hangat surya dicakrawala, tersenyum penuh warna seperti pelangi yang datang ketika hujan reda, tertawa karna bulan datang menghias temaram malamnya dan gemintang menggenapi kerlip ditiap kisi ruang rasa dihatinya..."
aku disudut itu
ketika kunikmati semua pesonamu
dan bersiap ketika sgalanya tercerabut dariku
yaa... berbaju "setidaknya" meski tanpa katakata saat berlalu
2 Juli 2010
-----------------------------------------------------
Febby Sahla. Sering menulis. Tinggal di Semarang.
sudah tak ada yang bisa kuseka... cukup setitik saja
seperti dulu tak ada beda
hanya sebaris kalimat yang sama
yang tetap kupunya
:
"selayaknya ia bahagia seperti saat menikmati hangat surya dicakrawala, tersenyum penuh warna seperti pelangi yang datang ketika hujan reda, tertawa karna bulan datang menghias temaram malamnya dan gemintang menggenapi kerlip ditiap kisi ruang rasa dihatinya..."
aku disudut itu
ketika kunikmati semua pesonamu
dan bersiap ketika sgalanya tercerabut dariku
yaa... berbaju "setidaknya" meski tanpa katakata saat berlalu
2 Juli 2010
-----------------------------------------------------
Febby Sahla. Sering menulis. Tinggal di Semarang.
Jun 23, 2010
Tanya
By Dalasari Pera Belawa
Mengapa puisiku dan puisimu
dijejali benci dan cinta?
Mengapa sajakku dan sajakmu
digembok tawa dan tangis?
16 April 2010
---------------------------------------------
Dalasari Pera Belawa. Suka menulis sajak. Tinggal di Wajo, Sulawesi Selatan, Indonesia. Karyanya yang lain dapat ditemui di situs bLog http://dalagodzi.blogspot.com
Mengapa puisiku dan puisimu
dijejali benci dan cinta?
Mengapa sajakku dan sajakmu
digembok tawa dan tangis?
16 April 2010
---------------------------------------------
Dalasari Pera Belawa. Suka menulis sajak. Tinggal di Wajo, Sulawesi Selatan, Indonesia. Karyanya yang lain dapat ditemui di situs bLog http://dalagodzi.blogspot.com
Jun 18, 2010
Adalah Tuhan yang menurunkan hujan
By Jack Slawi
Adalah Tuhan
yang menurunkan air dari langit
dan di dalamnya ada kado
buat semua yang merasakan rindu
adalah hujan
di kala aku menanti nasi
yang di bumbui aneka macam ramuan saji
petir petir
suara angin
menggelegar ingin bersanding
adalah Tuhan
cuaca bening di ubah hening
Jakarta, 18 Juni 2010
------------------------------------------------------------
Jack Slawi. Bukan nama sebenarnya. Sering menulis di situs pertemanan. Tinggal di Jakarta.
Adalah Tuhan
yang menurunkan air dari langit
dan di dalamnya ada kado
buat semua yang merasakan rindu
adalah hujan
di kala aku menanti nasi
yang di bumbui aneka macam ramuan saji
petir petir
suara angin
menggelegar ingin bersanding
adalah Tuhan
cuaca bening di ubah hening
Jakarta, 18 Juni 2010
------------------------------------------------------------
Jack Slawi. Bukan nama sebenarnya. Sering menulis di situs pertemanan. Tinggal di Jakarta.
Jun 6, 2010
Malam Kita
By Kembara Gelungan Hitam
Malam mulai memapah, pasrah. Kubiarkan kau bersemayam, meliar. Mempuisikan rindu. Melukis sedusedan gerimis hujan di tepi anjungan, kapal cinta. Hingga aku bisa mencium hangat wangi aroma samudra, di bibir waktu.
Hening itu searoma candu, kita mabuk .
Aku di tepian pantai menatap senja, denganmu. Jingga serupa ufuk. Kubiarkan kau menjalang, benamkan jiwamu. Di kedalaman laut bening, mencatat puisi biru. Kerinduan tentang nyanyian camar, daratan juga karang. Bukan kisah perompak atau pun badai, tapi tentang semilir angin juga kerasnya gelombang.
Kita saling memahami keterbatasan pandang. Sementara telunjuk saling sibuk merekareka. Menyapa pun sering lupa. Hidup tetap kembali, menantang. Tak berulang. Namun bayang saling menggenggam, hingga masa itu datang.
Kita; aku dan kau tanpa akhiran
5 Juni 2010
------------------------------------------
Kembara Gelungan Hitam. Bukan nama sebenarnya. Sering menulis di situs pertemanan. Tinggal di Ibukota.
Malam mulai memapah, pasrah. Kubiarkan kau bersemayam, meliar. Mempuisikan rindu. Melukis sedusedan gerimis hujan di tepi anjungan, kapal cinta. Hingga aku bisa mencium hangat wangi aroma samudra, di bibir waktu.
Hening itu searoma candu, kita mabuk .
Aku di tepian pantai menatap senja, denganmu. Jingga serupa ufuk. Kubiarkan kau menjalang, benamkan jiwamu. Di kedalaman laut bening, mencatat puisi biru. Kerinduan tentang nyanyian camar, daratan juga karang. Bukan kisah perompak atau pun badai, tapi tentang semilir angin juga kerasnya gelombang.
Kita saling memahami keterbatasan pandang. Sementara telunjuk saling sibuk merekareka. Menyapa pun sering lupa. Hidup tetap kembali, menantang. Tak berulang. Namun bayang saling menggenggam, hingga masa itu datang.
Kita; aku dan kau tanpa akhiran
5 Juni 2010
------------------------------------------
Kembara Gelungan Hitam. Bukan nama sebenarnya. Sering menulis di situs pertemanan. Tinggal di Ibukota.
Subscribe to:
Posts (Atom)


