By Dian Aza
Ketika mencintai seseorang, seperti kau kucintai. Benar kau, meski tak sempurna kata, kacau balau rasa, ketika mencintai seseorang seperti kau, aku menggenggam dunia. Menjadi buta, menjadi tuli, menjadi lumpuh, akhirnya mati, menjadi abadi.
Ketika mencintai, seseorang seperti kau, mestinya aku tak punya lidah, tak punya mata, tak punya tangan. Biar tak perlu kaudengar, kaulihat, dan kaubaca. Aku memandangmu berjalan mencari bunga matahari yang kutanam di langit pagi.
Aku menunggumu datang dan berkata,”Betapa buruk caraku menulis puisi.” Ketika mencintai seseorang seperti kucintai kau, biar puisi menuliskan dirinya sendiri, aku hanya tahu mencintai*
8 April 2011
----------------------------------------------
Dian Aza. Sering menulis sajak, banyak tersebar di situs jejaring sosial facebook. Tinggal di Jakarta.
The collection of Note's from me and all of my friends... and Whoever.... That's it.....
Apr 11, 2011
Apr 6, 2011
Airmata
By Bening Rri
Ketika airmataku menangis,
ketika tangis tangis berbicara panjang,
terus menerus
meremas hatimu,
merebahi dadamu,
menetesi jiwamu,
lenganmu,
jari jemarimu
bahkan di atas airmatamu...
Mungkin itulah kebahagiaan,
karena tangis tangisku adalah bayangan di cermin,
adalah itu adanya,
adalah kejujuran..!
---------------
Bening Rri. Tinggal di Sumbawa. Penyiar radio.
Ketika airmataku menangis,
ketika tangis tangis berbicara panjang,
terus menerus
meremas hatimu,
merebahi dadamu,
menetesi jiwamu,
lenganmu,
jari jemarimu
bahkan di atas airmatamu...
Mungkin itulah kebahagiaan,
karena tangis tangisku adalah bayangan di cermin,
adalah itu adanya,
adalah kejujuran..!
---------------
Bening Rri. Tinggal di Sumbawa. Penyiar radio.
Apr 1, 2011
Wasted
By Dalasari Pera
Future has arrived
Self transfer to waste
Lose increasingly fall
Peak aborted
Fall in calendar
Perverted tales dashed
Explore every inch of the corridor
was because the wound
After a pair of eyes changing sea
Welcomes frantic deliver fear
Belawa, March 28, 2011
-------------------------------------------------
Dalasari Pera. Living in Belawa, South Sulawesi. His works are widely spread social networking sites.
Future has arrived
Self transfer to waste
Lose increasingly fall
Peak aborted
Fall in calendar
Perverted tales dashed
Explore every inch of the corridor
Whether, where a longerWhile singing the grief
Fairy tales?
Corridor?
was because the wound
It is gray about the causeBecomes a roar that most melancholy
Grief was because the wound?
Injury was because the grief?
After a pair of eyes changing sea
Welcomes frantic deliver fear
Belawa, March 28, 2011
-------------------------------------------------
Dalasari Pera. Living in Belawa, South Sulawesi. His works are widely spread social networking sites.
Mar 27, 2011
Negeri Sumbing
By Bening Rri
Negeri tanpa kuping,
Hukumnya sumbing,
Mata keadilannya juling,
Rakyatnya tukang kapling,
Dosa-dosa bunting..!
25 Maret 2011
---------------------------------------
Bening Rri. Tinggal di Sumbawa. Penyiar radio.
Negeri tanpa kuping,
Hukumnya sumbing,
Mata keadilannya juling,
Rakyatnya tukang kapling,
Dosa-dosa bunting..!
25 Maret 2011
---------------------------------------
Bening Rri. Tinggal di Sumbawa. Penyiar radio.
Mar 22, 2011
Mungkin Malaikat Tahu
By Shinta Miranda
Ia tidak bosan ucapkan selamat pagi saat terbangun dari kembara semalam
Tiada mau diingat lagi dimana di atas bumi ruhnya melompat-lompat
Meski sering kali ia terlambat berangkat oleh hidupnya yang tak berharkat
Ketika hari bertambah tua lamanya , cuma satu tanyanya setiap pagi
Apakah ada pembeli sebungkus nasi hari ini untuk ia berangkat lagi
Mungkin malaikat tak pernah tahu, esok pagi ia tak akan kembali lagi ke sini
7 Maret 2011
---------------------------------------
Shinta Miranda. Salah satu dari beberapa penyair perempuan yang menarik dan produktif. Karya-karyanya banyak ditemui di situs jejaring sosial fb. Karyanya yang lain dapat dibaca pada buku-buku antologi puisinya dengan penyair-penyair perempuan lain.
Ia tidak bosan ucapkan selamat pagi saat terbangun dari kembara semalam
Tiada mau diingat lagi dimana di atas bumi ruhnya melompat-lompat
Meski sering kali ia terlambat berangkat oleh hidupnya yang tak berharkat
Ketika hari bertambah tua lamanya , cuma satu tanyanya setiap pagi
Apakah ada pembeli sebungkus nasi hari ini untuk ia berangkat lagi
Mungkin malaikat tak pernah tahu, esok pagi ia tak akan kembali lagi ke sini
7 Maret 2011
---------------------------------------
Shinta Miranda. Salah satu dari beberapa penyair perempuan yang menarik dan produktif. Karya-karyanya banyak ditemui di situs jejaring sosial fb. Karyanya yang lain dapat dibaca pada buku-buku antologi puisinya dengan penyair-penyair perempuan lain.
Mar 17, 2011
Kepada Seorang Sahabat II
By Ni Nyoman Resini
Karena di dahiku tertulis sejarah yang cemerlang?
aku terlambat memahami rasa pahit yang menjalar di tenggorokanmu
mari ke pusaraku, Ni...kau menggamit bathinku, mengajakku menyusuri lorong kelam dengan sepatuku yang melelahkan
tiga puluh lima tahun engkau dimakamkan pagi bisu,tanpa peringatan apapun,selain gundukan tanah merah dan setangkai mawar ungu
Duwh,warna itu mendadak membuatku sepi paling beku
tak ada lagi adrenalin yang bergolak saat kita berdua menatap foto dengan bingkai emas itu, sungguh tak ada lagi rasa cinta saat kita berdua menatap bola mata maskulin gambar itu
tulisan di dahimu melelahkanku,dan huruf-huruf terutama di jantungmu membuatku mati beku
kemana keindahan yang sering kau lukis pada raut rembulan?
terampas malam terhempas mendung
membadai
kuingin pertemuanku denganmu menyegarkan bunga-bunga yang layu dan membuka pintu hati yang terkunci
yang pergi biarlah pergi
dia tak akan pernah kembali
sudahi perdebatan kita yang selalu berakhir ricuh
engkau dan aku hanya dua kutub yang beda sejarah
----------------
Ni Nyoman Resini. Tinggal di lampung.
Karena di dahiku tertulis sejarah yang cemerlang?
aku terlambat memahami rasa pahit yang menjalar di tenggorokanmu
mari ke pusaraku, Ni...kau menggamit bathinku, mengajakku menyusuri lorong kelam dengan sepatuku yang melelahkan
tiga puluh lima tahun engkau dimakamkan pagi bisu,tanpa peringatan apapun,selain gundukan tanah merah dan setangkai mawar ungu
Duwh,warna itu mendadak membuatku sepi paling beku
tak ada lagi adrenalin yang bergolak saat kita berdua menatap foto dengan bingkai emas itu, sungguh tak ada lagi rasa cinta saat kita berdua menatap bola mata maskulin gambar itu
tulisan di dahimu melelahkanku,dan huruf-huruf terutama di jantungmu membuatku mati beku
kemana keindahan yang sering kau lukis pada raut rembulan?
terampas malam terhempas mendung
membadai
kuingin pertemuanku denganmu menyegarkan bunga-bunga yang layu dan membuka pintu hati yang terkunci
yang pergi biarlah pergi
dia tak akan pernah kembali
sudahi perdebatan kita yang selalu berakhir ricuh
engkau dan aku hanya dua kutub yang beda sejarah
----------------
Ni Nyoman Resini. Tinggal di lampung.
Mar 12, 2011
Nyali...
By Ira Ginda
menuju jantung kota
ada degup yang debarnya sama
di persimpangan rambu tak menyala
pejalan bingung mengatur kakinya..
perempuan hanya berdiam di kiri
saat lelakinya telah mengubur nyali
lidah sepi menjilati knalpot kota
dengan kuasa, memainkan kartu tarotnya
anakanak terduduk lama
menunggu, dipanggil budak oleh ayahnya
mengeja kematian dulu, dengan perulangan ketidakan itu
12 Maret 2011
-----------------------------------------
Ira Ginda. Karya-karyanya yang lain dapat ditemui di situs jejaring sosial. Tinggal di Cikarang, Bekasi.
menuju jantung kota
ada degup yang debarnya sama
di persimpangan rambu tak menyala
pejalan bingung mengatur kakinya..
perempuan hanya berdiam di kiri
saat lelakinya telah mengubur nyali
lidah sepi menjilati knalpot kota
dengan kuasa, memainkan kartu tarotnya
anakanak terduduk lama
menunggu, dipanggil budak oleh ayahnya
mengeja kematian dulu, dengan perulangan ketidakan itu
12 Maret 2011
-----------------------------------------
Ira Ginda. Karya-karyanya yang lain dapat ditemui di situs jejaring sosial. Tinggal di Cikarang, Bekasi.
Subscribe to:
Posts (Atom)